You Have Someone? – 4

Title: You Have Someone?

Cast: Changmin Sooyoung Kyuhyun

Rating: PG-16

Length: 3858 Words

Genre: Romance, Sad

Previous part:

One | Two | Three

Part 4 nya aku buat ngebut jadi maaf kalau masih banyak kurangnya.

Sorry for the typo, or the weird story

Happy reading ^^

“Selamat pagi, dok”

Aku tersenyum, memberi salam, sekaligus menyapa dokter cantik berkacamata didepanku. Dia balas tersenyum dan mempersilakanku duduk. “Ada keluhan lagi? Atau anda ingin berkonsultasi?” Dokter itu selalu melayani pasiennya dengan halus, lembut, tanpa meninggalkan kesan berwibawanya sebagai seorang dokter muda.

“Seperti biasanya. Konsultasi. Dokter tahu persis apa yang menjadi topik utama tiap aku datang kemari” Dokter bernama lengkap Kwon Yuri itu tersenyum lembut, kalem. “Ini sudah kali ke-empat sejak kedatangan anda dua bulan yang lalu. Sepertinya, suami nyonya Cho ini terlalu buru-buru soal momongan” Aku mengulum senyum, membalas joke yang diberikan dokter itu dipagi hari. Nyonya Cho. Seberapa lama lagi aku dapat menyandang marga tersebut?

“Apakah aku terkena kemandulan? Apakah rahimku bermasalah? Atau, aku punya penyakit lain yang dapat menghambat kehamilanku? Tolong katakan sejelasnya, dok” Aku menyerocos, memaksanya untuk buka mulut tentang masalahku. “Aku sudah memeriksamu setiap kali anda datang kemari dan tak ada tanda-tanda aneh yang kudapat. Seperti yang kukatakan, faktor keberuntungan.” Aku mendelik tajam. Menimang-nimang pernyataan yang dibuat dokter cantik itu. “Kami sudah melakukannya sekali, tak ada hasil apapun yang kudapatkan,-“

Dokter Kwon menghela nafas dan tersenyum disaat yang bersamaan. Dia menatapku perhatian. “Kalian berdua belum beruntung. Ada banyak pasangan yang sekali berhubungan langsung membuahkan hasil, ada yang berkali-kali, bahkan puluhan kali namun belum membuahkan hasil. Semua itu ada prosesnya, Tuhan termasuk dalam campur tangan urusan tersebut” Dokter itu masih saja ngotot dengan thesis yang dimilikinya.

Beberapa saat setelahnya aku masih saja berseteru, berargumen, atau apalah itu sebutannya. Sesi konsultasi ini baru selesai setelah hampir satu jam berlalu. “Berusahalah. Imbangi juga dengan berdoa. Aku ikut mendoakanmu” Dokter itu berpesan setelah cukup lama memberiku nasihat. Aku mengangguk dan segera menutup pintu ruangan kerjanya.

Aku menyeret kakiku dengan begitu malas kali ini. Kemana aku akan pergi? Kemana saja, asalkan tidak kembali kerumah. Pasangan mesum itu pasti kini tengah menikmati kebersamaan pagi hari mereka. Pasti. Tentu saja.

Surai poni tiraiku bergerak naik ketika kutiup. Layar smartphone-ku bergerak keatas ketika aku mulai men-scroll nya. Nama milik Changmin paling menarik perhatianku ketika layar bergerak menampilkan kontak dengan inisial depan ‘C’. Kenapa tidak dari tadi saja!

“Halo Changmin. Kau free ‘kan? Bisa kau temani aku pergi? Kutunggu kau di Starbucks dekat bundaran kota. Lima menit lagi. Datanglah tepat waktu”

Aku tertawa sendiri. Tidak habis pikir dengan teleponku untuknya. Aku terlalu menuntut, terlalu memaksanya, tapi toh aku juga tidak terlalu peduli. Changmin juga sepertinya bukan tipe pria yang langsung marah ketika dituntut seperti itu.

Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Changmin tak kunjung datang. Aku semakin bingung dan kapiran. Apa dia tersesat? Atau dia masih tidur? Atau jangan-jangan dia marah? Atau,-

“Sepertinya senang sekali bisa membuat orang kerepotan. Dasar” Seseorang tiba-tiba mendatangiku dan langsung menubruk kursi didepanku. Aku tersenyum masam, yang kutunggu datang juga. “Aku butuh hiburan, dan seseorang yang kupikirkan justru kau. Jadi, jangan salahkan aku” Aku beralasan. Changmin tersenyum dan mengacak rambutku kasar. “Benarkah? Aku merasa terhormat sekali”

Changmin menatap sekeliling cafe kemudian mengalihkannya untuk menatapku. Sorot matanya tajam, begitu menusuk tiap orang yang ditatapnya. Untuk hal ini, sorot matanya sukses membuatku nervous. Jika dilihat dari dekat, lama-lama Changmin tampan juga.

“Sejak kemarin, pertemuan kita selalu dihabiskan di cafe, atau restoran. Kau tak bosan?” Dia tersenyum miring. Apa maksudnya? “Tak berniat untuk berpindah tempat eoh?” Sedetik setelah ia menyelesaikan kalimatnya, Changmin menyeringai kearahku. “Langsung saja ke intinya. Kau ingin pergi kemana?” Changmin justru tertawa. “Ke apartemenku. Kita bisa berbelanja kemudian memasak bersama nanti. Menyenangkan bukan?”

Aku terdiam. Memikirkan tentang ajakan Changmin. Belanja? Memasak bersama? Oh, kurasa aku mulai tertarik dengan dua kegiatan itu.

Deal. Aku terima tawaranmu” Seringai semakin jelas terpampang di wajah yang baru saja kubilang tampan itu. Lima detik setelahnya, Changmin langsung menarikku dari bangku dan membawaku keluar.

***

Changmin POV

Kami berputar-putar mengelilingi supermarket yang terbilang lumayan besar ini. Sooyoung asyik mengamati berbagai sayuran segar di rak namun tak satupun yang dia ambil. “Kita mau memasak apa? Aku bingung” Dia mengeluh seraya menatapi sayuran segar didepannya. “Tidak tahu” Balasku pendek yang tentu saja membuat matanya melotot sempurna kearahku.

Ha – Ha – Ha. Manis sekali dia. Bahkan saat marah pun masih tetap cantik.

“Kau vegetarian atau bukan?” Sooyoung terlebih dahulu meminta saranku sebelum memutuskan. Tipe wanita yang demokratif. Aku tersenyum dan memilah-milah beberapa jenis sayuran didepanku. “Tidak juga. Aku lebih suka nasi daripada sayur” Sooyoung mendecih sesaat sebelum membalasku. “Tentu saja! Kau ‘kan shikshin, sayur tak akan cukup untuk perut karet sepertimu”

Dan setelah mengucapkannya, dia melenggang menjauh dariku. Berlari secepat yang ia bisa.

“Ya! Awas kau!”

Beberapa menit selanjutnya kami berdua justru asyik bermain petak umpet versi baru. Hanya saja penghalang yang dijadikan tampat persembunyian bukan lagi rumah, bangunan, ataupun lorong. Sebaliknya, penghalang yang kami gunakan adalah rak-rak besar berisi barang dagangan ataupun bersembunyi dibalik tubuh orang-orang yang berbelanja. Childish sekali kami berdua ini. Tapi, mengasyikkan juga.

Aku mengikuti tubuhnya yang masih berjalan diantara tubuh dua orang pria dewasa berpawakan tambun. Matanya melotot tajam mengawasi keberadaanku yang justru berada dibelakang tubuhnya sendiri. Choi Sooyoung, dapat kau!

Dalam hitungan detik aku langsung menubruk tubuh rampingnya dari belakang. Dia terbelalak dan berniat memakiku saat itu juga. “Kau kalah” Ucapku senang dengan masih diposisi yang sama, memeluknya dari belakang. Sooyoung tak kunjung menjawabku, dia diam saja. Tangannya perlahan meraba tanganku yang masih melingkar diperutnya. Tiba-tiba kami berdua dihadapkan pada posisi awkward.

Aku tak tahu, juga tak menyadarinya. Ternyata aku menikmati pelukan ini.

Sooyoung berniat melepas lenganku, namun aku mengeratkannya kembali. “Coba saja kalau bisa” Entah otakku kemasukan apa, aku justru melontarkan kalimat candaan itu pada kejadian seperti ini. Sooyoung memiringkan kepalanya hingga menatap wajahku. Dia malu, terlihat dari pipi nya yang merona. “Jangan main-main denganku Shim Changmin” Volume suara semakin keras, dia juga semakin berontak. Aku justru tertawa, ternyata seperti ini rasanya mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Untungnya ruangan supermarket yang sedang kutempati ini lumayan sepi, hanya ada beberapa orang yaang terkadang melewatiku. Tapi mereka diam saja, lebih asyik dengan tujuan mereka sendiri-sendiri. “Lepaskan sekarang juga. Perutku sakit bodoh” Sooyoung terus saja mencercaku dengan tiap omongannya yang sedikit kasar. “Awalnya aku berniat melepaskanmu, siapa sangka, aku justru kegirangan memelukmu. Lingkar perutmu kecil sekali” Aku mengerling, menggodanya dengan rangkaian kata yang sebelumnya tak pernah kulontarkan dari mulutku.

“Kau malu ya? Pipi mu merah sekali Soo, kau senang jika aku menggodamu ya?” Jari telunjukku bergerak mencolek pipi nya yang- demi Tuhan- sangat halus itu. Sooyoung semakin menunduk, ia tak bersuara tapi ia masih tetap berontak. Mau tak mau aku melepaskannya. Hampir sepuluh menit, kurasa sudah cukup untuk mengambil kesempatan darinya.

“Aku membencimu Shim Changmin bodoh, kau mempermalukanku” Entah pada siapa ia merutuk, tapi sepertinya tertuju padaku. Tanpa ambil pusing aku bergerak menghampirinya, menggenggam pergelangan tangannya. “Sudah, jangan marah lagi. Wajahmu semakin menggoda jika sedang marah” Sooyoung melirikku tajam kemudian mendengus. “Apa lagi salahku?”Aku berlagak frustasi.

“Kau memang pria tak terduga, Changmin” Aku tersenyum senang mendengar pujiannya untukku. Pria tak terduga, itu pujian bukan? Kalaupun bukan, tetap anggap saja begitu!

***

Author POV

Dengan sekali dorongan Changmin berhasil mendobrak pintu coklat berlapis baja miliknya itu. cepat-cepat ia berhambur kedalam dengan diiringi Sooyoung dibelakngnya. Sooyoung menatap sekeliling, apartemen Changmin lumayan. Lumayan besar dan lumayan bersih juga, untuk ukuran pria bebas sepertinya.

“Bagaimana? Kau menyukai apartemenku ‘kan? Aku sudah bekerja keras menyulap ruangan ini menjadi bersih seperti sekarang” Changmin terkekeh. Sooyoung ikut menimpali, betapa kocak dan betapa anehnya teman barunya itu. “Boleh aku duduk? Menarik sekali melihat sofa beludru besarmu itu, rasanya aku ingin cepat-cepat mendudukinya” Sooyoung tersenyum miring. “Ya, ya, ya. Aku memang tak pernah salah dalam memilih perabot rumah. Silakan duduk, nona cantik Choi Sooyoung” Changmin mengibaskan tangannya pelan dihadapan Sooyoung, mempersilakannya duduk.

Sooyoung terpaku ketika menilik kembali apartemen Changmin. Ruangan besar yang hanya dibatasi oleh rak-rak tinggi berisi buku atau sekedar hiasan ornamen lainnya. Dindingnya hampir penuh dengan hasil karya bidikan yang luar biasa. Gambar-gambar yang terpasang terkadang menampilkan pose yang aneh, tak jarang membuat orang bingung ketika baru pertama kali melihatnya.

“Apa profesimu yang sebenarnya? Kau seorang seniman?” Sooyoung berusaha menebak asal tentang pekerjaan Changmin. “Menurutmu, aku ini cocok menjadi apa?” Changmin balas membalik pertanyaan. Sooyoung mendengus sebal. “Terserahmu saja lah” Changmin mengulum senyuman geli, ia beranjak mendekati tubuh Sooyoung dengan dua mug espresso yang baru saja dibuatnya.

Changmin memposisikan tubuhnya disamping Sooyoung, kemudian lanjut berkata. “Bisa kuceritakan sedikit mengenai hobiku?” Mendadak keadaan menjadi sedikit serius. Sooyoung melirik Changmin, mengangguk, dan mulai memasang telinganya mendengar cerita Changmin. “Aku jago bernyanyi, berolahraga, aku juga mahir menggambar. Diantara ketiganya, aku paling suka menggambar. Waktu kecil, tak sengaja aku melukis seorang perempuan temanku. Kuakui dia sangat cantik, juga anggun. Aku jatuh cinta dengannya, dia juga yang menjadi objek lukis pertamaku,-“ Changmin memilih menunda ceritanya dengan menyesap espresso nya. Rasa pahit khas kopi dirasa cukup untuk membasahi tenggorokannya yang mulai kering.

“Aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku pada perempuan itu, siapa sangka dia justru memberiku harapan palsu. Bilang jika ia ingin melanjutkan study nya keluar negeri. Lebih membingungkannya lagi, dia memintaku menunggunya, saat kami bertemu lagi nanti, saat itulah ia akan menjawab pernyataan cintaku lima tahun silam” Sooyoung sedikit tersentuh dengan jalan kehidupan Changmin yang ternyata tak sedatar kelakuannya. Lelaki itu penuh misteri, Sooyoung baru menyadarinya. “Apa kalian pernah bertemu lagi?” Changmin menggeleng, kembali menyesap minumannya untuk kedua kali.

“Tidak. Kuharap tidak akan pernah. Kurasa aku tak membutuhkan lagi jawabannya. Tidak semua orang bisa bertahan untuk menunggu, termasuk juga aku” Changmin terlihat melamun, tatapan matanya lurus mengarah kedepan. Sooyoung mengernyit heran, ia hendak bertanya alasannya namun enggan. Setelah berkenalan dengan Changmin, Sooyoung baru mengerti. Changmin bukanlah tipe orang yang mau dipaksa, jika ia mau maka dengan senang hati ia akan bercerita sendiri. Termasuk dalam hal ini. “Lalu apa yang kau lakukan dulu setelah perempuan itu menolakmu? Kau patah hati?”

“Aku merasa sangat putus asa. Aku tidak suka menggambar lagi, aku menjadi seorang yang tertutup, ketus, dan juga dingin. Semuanya berubah hampir seratus delapan puluh derajat,kehidupanku serasa kembali ke titik nol-“

“Apa yang kau lakukan hingga bisa bangkit lagi seperti ini?”

Changmin menatap wajah Sooyoung yang sedari tadi memperhatikannya. Ada kesenangan tersendiri ketika wanita itu dengan begitu serius menatapnya. “Aku melakukan revolusi besar-besaran. Dimulai dengan mengubah haluan kesenanganku. Saat ayah mengajakku menghadiri pameran IT, tidak sengaja aku melihat sebuah kamera DSLR terpajang apik disana dan itu membuatku begitu tertarik. Aku memaksa ayah membelikanku, dengan ganti uang jatahku dipotong selama hampir enam bulan. Kamera itu yang sekarang kuletakkan di lemari sebelah sana. Kamera pertamaku, sekaligus jalan keluarku untuk bangkit” Changmin mengacungkan telunjuknya pada sebuah lemari kaca di pojokan ruangan. Sooyoung mengikuti alur telunjuk Changmin dan memang benar, kamera keramat itu ada disana.

Tiba-tiba Sooyoung berdiri dan bertepuk tangan. “Wow! Ceritamu sungguh menarik, kau benar-benar seorang lelaki tangguh” Sooyoung tersenyum dengan beribu pujian yang ia lontarkan untuk Changmin. Changmin merasakan telinganya yang mulai memerah, ia malu, tentu saja.

“Kau tahu tidak, kisah kita berdua hampir memiliki persamaan?” Sooyoung menautkan kedua alisnya, ia kembali duduk tenang dan mendengarkan kalimat Changmin lagi. “Kita sama-sama berada di posisi terpuruk. Aku dengan masa laluku, dan kau dengan suamimu. Kau tahu mengapa cinta itu rumit?” Sooyoung menggeleng sejenak. “Karena manusia tak pernah bisa membaca perasaan mereka masing-masing. Hanya mengikuti nafsu, itu mengapa banyak sekali orang-orang yang berganti pasangan. Itu mengertikan juga, jika mereka belum becus untuk mengerti dirinya sendiri”

Mereka berdua sama-sama terdiam, merenungi tiap-tiap pecahan kisah mereka masing-masing.

“Kau menganggap jika masalahmu karena kesalahan suamimu yang memilih berselingkuh. Tetapi suamimu, ia pasti tak mau mengakuinya. Ia manusia biasa yang memiliki berjuta perasaan yang kumaksud tadi” Sooyoung menunduk, sialnya apa yang dikatakan Changmin itu memang benar. “Kau, tak bisa terus menunggu hingga Kyuhyun memberikan keputusan Soo. Kau harus bertindak, buatlah revolusi besar-besaran seperti yang pernah kulakukan. Aku yakin kau tak selemah ini Soo” Changmin berlagak seolah menjadi motivator hebat. Perkataannya tegas dan menggebu-gebu.

“Apakah aku bisa? Jika boleh jujur, aku masih menyukainya. Tak mudah melupakan seorang yang sudah berstatus suami. Kami menikah karena cinta, bukan karena perjodohan konyol” Changmin menepuk pelan pundak Sooyoung. Sinar matanya begitu teduh dan menghangatkan. “Nyatanya aku bisa, jangan menutup diri Soo. Lebih baik keluar dengan sedikit kesakitan daripada bertahan dengan tekanan batin seumur hidup”

Kedua kalinya, Sooyoung harus mengakui jika omongan lelaki itu benar.

“Dengarkan aku sekali saja, jangan pernah menyia-nyiakan hidupmu sendiri. Hidup itu sekali, jangan terus-terusan berada dalam keterpurukan. Kau yang akan rugi sendiri nantinya”

Sooyoung tersenyum simpul, sekarang ini benaknya sedang dipenuhi dengan beribu kekaguman untuk Changmin. Lelaki penolong yang kemudian menjadi sosok aneh lalu menjadi sosok misterius hingga sekarang berubah lagi menjadi sosok cendekiawan dengan pendidikan tinggi. Lelaki itu unik, gaya perilakunya berubah-ubah, dan selalu membuat keterkejutan baru disetiap pertemuan mereka.

“Sekarang aku sadar, kau telah hidup dengan begitu banyak peristiwa. Siapa sangka, seluruh peristiwa itu justru membuatmu lebih kuat dan selektif dalam bertindak. Aku, kurasa aku akan mempertimbangkan apa yang kau sarankan tadi” Mereka berdua sama-sama tersenyum, senyum ketulusan yang saling beradu.

***

Victoria mulai terbangun ketika jarum pendek mulai menunjuk pada pukul sepuluh pagi. Dengan sedikit mual, Victoria bergegas masuk kedalam kamar mandi dan menumpahkan segala isi perutnya. Semalam ia mabuk, maklum saja jika hari ini ia muntah-muntah. Kyuhyun berdiri dibelakang tubuhnya, ia bersedekap dengan mata yang masih tertuju penuh pada tubuh didepannya.

“Gwenchanayo?” Tanyanya panik. Victoria mengibaskan tangannya. “Kurasa aku butuh istirahat lagi” Victoria segera membasuh mulutnya. Ditatapnya Kyuhyun lekat-lekat, pandangannya sarat akan harapan. “Kyu, aku tak bisa pulang dengan keadaan seperti ini. Bisakah aku menginap disini lagi?” Ia merajuk dengan tawa liciknya. Kyuhyun termenung, bingung harus menjawab apaa. “Tak perlu menghiraukan Sooyoung, istrimu itu pasti sudah maklum dengan kehadiranku disini”

Cepat-cepat Victoria menyambar mulut Kyuhyun sebelum lelaki itu sempat memotongnya. Ini kelemahan Kyuhyun, nafsunya ketika berhadapan dengan wanita.

***

Sooyoung POV

“Kita sungguh akan memakan ramyeon sekarang ini?” Aku mengeluh tertahan. Changmin mengangguk mantab seraya mengeluarkan dua kemasan remyeon instant dari kantung plastik tempat kami belanja dari supermarket tadi. “Lama sekali kita memutari supermarket, hasilnya tetap saja kita memakan mi instant” Aku mengeluh lagi untuk kesekian kalinya. Changmin mengelus rambutku pelan. “Salahmu juga tak kunjung memilih menu makanan”

Changmin mulai membuka bungkus ramyeon sedangkan aku masih menunggu air hingga mendidih. Changmin tipe orang yang bisa diandalkan, termasuk orang yang peka juga. Oh lihatlah! Sudah berapa kali aku memujinya hari ini? Tidak terhitung kurasa.

“Kenapa kau melamun? Apa kau terkesan dengan sikapku hari ini?” Dia mulai menggodaku seperti biasanya. Sekarang justru pipi ku merona karena ucapannya, aku malu dengan pikiranku yang mudah sekali ditebak. “Andwae! Menurutku kau biasa saja, tidak banyak berbeda dengan Kyuhyun” Aku mendengar suara decihannya namun setelahnya Changmin memilih untuk meninggalkanku. “Kau lanjutkan saja sendiri. Selera memasakku tiba-tiba hilang” Dia langsung pergi begitu saja. Apa yang salah dari ucapanku?

Hampir dua puluh menit, tetapi ramyeon yang kubuat belum juga matang. Harusnya pekerjaan ini lebih mudah, jika saja si lelaki aneh itu tidak kehilangan selera memasaknya.

Hafftt.. aku merasa dongkol, namun disaat yang bersamaan aku juga terkesima dengannya.

Membingungkan, amat sangat membingungkan.

***

Segera kuberikan semangkuk besar ramyeon yang baru saja kubuat. Mi yang baru saja matang itu mengeluarkan kepulan asap, kuah kental berwarna kemerahan juga semakin menggugah selera. Tidak masalah, ramyeon pedas juga enak kok.

“Kau benar-benar akan memakan ramyeon pedas itu?” Kutatap gusar wajah Changmin. “Wanita akan terlihat seksi ketika sedang kepedasan. Kau ingin memperlihatkan sisi seksimu padaku eo?” Dia tertawa mengejek, hampir saja kuguyurkan air putih ke kepalanya yang mesum itu. “Sekali lagi kau bicara, air ini dengan mudah akan menyegarkan kepalamu” Aku mendelik tajam, dia justru tertawa lebar. Sial, dia menang lagi.

Benar apa yang Changmin katakan, ramyeon ini sangat pedas. Kurang seperempat bagian lagi kuhabiskan, tapi peluhku rasanya tak bisa diajak kompromi. Lidah dan bibirku panas seperti terbakar. Sebagian keringat juga sudah membanjiri rambut, juga keningku. Oh my! Kujamin pasti aku jelek sekali sekarang ini.

Aku menghentikan makanku, untuk menetralkan rasa pedas di mulutku. Changmin melirikku, dia tertawa lagi, tertawa mengejek lebih tepatnya. “Kubilang juga apa, kelihatan seksi. Rasakan! Sekarang aku bisa melihat sisi seksi darimu. Haha” Dia tertawa sangat lepas. Aku mati kutu, malu, menyesal, marah, semuanya bercampur-campur tak beraturan.

Karena posisiku yang sudah terpojokkan, aku hanya bisa menggigit bibir bawahku. Changmin masih tertawa namun kemudian ia berhenti ketika melihat wajah memelasku. God! Sekarang aku jadi bahan olokan untuknya. “Jangan pasang muka seperti itu, biasa saja. Aku tak akan mengejekmu lagi, janji” Aku tersenyum, Changmin mudah sekali luluh ternyata.

***

Author POV

Changmin memalingkan wajahnya dari Sooyoung. Bukan maksud apa-apa, sebenarnya masih belum puas menggoda wanita itu, tapi dengan pose Sooyoung yang menggigit bibirnya itu, membuatnya bergetar. Changmin tak pernah berbohong, termasuk dengan guyonannya tadi. Menurutnya, Sooyoung memang seksi, tanpa kepedasan pun Changmin akan tetap melihat sisi seksi dalam diri Sooyoung. Wanita itu membuatnya jatuh hati, bahkan di lubang terdalamnya.

Setelahnya, Changmin memilih untuk memulangkan Sooyoung. Hampir seharian ini mereka berdua bersama. Sooyoung senang karena hari ini tak harus melihat pasangan suami dan juga selingkuhannya itu. Terlebih Changmin, berkali-kali lipat kesenangan didepat oleh Changmin. Perkembangan hubungannya maju selangkah, Sooyoung sedikit kagum dengannya. Menurutnya, ini adalah hari terindah.

“Masih seputar ceritamu tadi, ehhm, apa sekarang kau menjadi fotografer?” Sooyoung membuka suara ketika mereka berdua berada di ruangan sempir sebesar mobil. Changmin melirik Sooyoung dan mengangguk. Tangannya masih terus memegang kemudi. “Kau bekerja di perusahaan mana?” Sepertinya, Sooyoung antusias sekali dengan kehidupan seorang Changmin.

“Dimana saja, asal mereka membutuhkanku, maka dengan serius aku akan menyalurkan hobiku kepada mereka. Kau tahu, aku tak pernah menyebut sesuatu hal, termasuk fotografi, sebagai sebuah pekerjaan. Itu adalah hobiku, keseharianku, maka melakukannya juga harus dengan senang hati. Sepanjang aku merasa nyaman, itu sudah cukup bagiku” Sooyoung kembali terdiam. Tiap patah kata dari Changmin memang begitu dahsyat dan berefek untuknya. “Kau terkagum-kagum denganku lagi eoh?” Changmin tersenyum jahil, hatinya lega, satu sisi positif darinya berhasil ia masukkan kedalam hati Sooyoung.

Sooyoung kelabakan ketika Changmin  berhasil (lagi) membaca pikirannya. “Tidak, kau biasa saja” Sooyoung mulai berkilah, meskipun ia sama sekali tak cocok ketika melakukannya. Changmin tersenyum penuh harap. “Ya, lisanmu memang mengatakan begitu. Tapi hatimu, aku sudah dapat membacanya” Sooyoung mendengus, menatap Changmin sebal. “Terlalu percaya diri, dan sok tahu” Balasnya dingin.

***

Mobil yang Changmin kemudikan telah berda di depan rumah Kyuhyun, Sooyoung segera turun dan mengucap beribu kata ‘terima kasih’ untuk Changmin. “Aku sudah banyak merepotkanmu hari ini, terima kasih banyak” Sooyoung mencoba menampilkan senyum paling manisnya pada Changmin. Lelaki itu justru mendengus. “Bisakah kau tak mengatakannya lagi? Dadaku rasanya hampir meledak mendengar pujianmu yang berlebihan. Dan lagi, berhenti tersenyum seperti itu. Kau terlihat jelek” Sooyoung merengut, dia sedikit menggebrak badan mobil Changmin dan segera berlalu.

“Pokoknya terima kasih, terserah kau mau mendengarnya atau tidak. Sekarang lebih baik kau pulang. Aku tidak membutuhkanmu lagi” Sooyoung bertingkah seolah mengusir Changmin. Changmin tersenyum senang, dia melambaikan tangannya sebelum mulai melajukan mobilnya. “Selamat malam, nona cantik Choi Sooyoung” Pamitnya sebelum benar-benar berlalu.

‘Untuk kesekian kalinya, aku telah berkata jujur padamu. Nona cantik Choi Sooyoung, kau memang cantik Choi’

Tanpa diduga, Sooyoung justru merasa senang ketika Changmin memanggilnya seperti itu lagi, untuk yang kedua kalinya. Ia tersenyum dengan masih berdiri ditempatnya.

‘Selamat malam juga, tuan setengah tampan Shim Changmin’

***

Baru beberapa langkah Sooyoung memasuki halaman rumahnya, ia melihat Kyuhyun yang justru berjalan berlawanan arah dengannya. Dadanya tiba-tiba berdegup, apa yang harus dilakukannya lagi ketika berpapasan dengan suaminya itu?

Sooyoung berniat membiarkan ketika jarak mereka berdua hampir berdekatan, namun sebelum langkahnya menjauh Kyuhyun telah menahan pergelangan tangannya terlebih dahulu. “Ayo kita jalan-jalan sebentar” Nada suara Kyuhyun terdengar bergetar, dan canggung. Sooyoung semakin bingung, sebelum ia sempat menjawab, Kyuhyun terlebih dahulu menarik pergelangan tangannya.

Kyuhyun memarkirkan mobilnya didekat sungai Han. Kembali Kyuhyun mengajak Sooyoung untuk mengikutinya. Mereka berdua sama-sama terduduk, pada sebuah bangku usang dibawah pohon yang menghadap langsung ke sungai. Kyuhyun meminta Sooyoung menunggunya sejenak, dengan alasan ia akan membeli sesuatu. Sooyoung mengangguk mengiyakan, ia masih cukup bingung mencerna maksud pikiran Kyuhyun saat ini.

Beberapa saat setelahnya, Kyuhyun kembali datang dengan dua cup ramyeon dan dua kaleng cola. Sooyoung mengernyit heran namun ia tetap menerima cup ramyeon yang Kyuhyun berikan. “Kita makan saja, sembari menunggu pertunjukan kembang api” Kyuhyun tersenyum lembut sekali. Sooyoung memang merindukan senyuman hangat itu, siapa sangka ia akan melihatnya lagi saat ini.

Sooyoung memakan cup ramyeonnya dengan bingung. Baru saja ia makan ramyeon dengan Changmin, sekarang dengan Kyuhyun. Sesekali Sooyoung melirik Kyuhyun yang masih memakan ramyeonnya dengan tenang. Rasanya seperti déjà vu. Kyuhyun balik menatapnya, dan itu membuatnya tertegun. “Kenapa? Kau haus, minum saja cola-nya” Kyuhyun menyodorkan kembali kaleng cola kepadanya. Sooyoung mengambil kaleng itu dan segera meminumnya – meskipun sebenarnya ia tidak terlalu kehausan. Lagi-lagi Sooyoung seperti telah merasakan kejadian seperti ini. Apakah ia mimpi sebelumnya? Sepertinya tidak.

Cukup lama mereka saling terdiam satu sama lain. Kyuhyun telah menghabiskan ramyeonnya, sedangkan Sooyoung hanya mengaduk malas mi nya. Pandangannya menatap kosong kedepan. Isi otaknya penuh dan terlalu diforsir hanya untuk menyatukan berbagai kejadian masa lampau yang pernah dijalaninya. Sooyoung tak salah, Ia pernah berada di posisi seperti sekarang ini.

“Dengan seperti ini, kuharap kita dapat mengenang kembali kencan kita yang pertama kali” Kyuhyun membuka suara sekaligus menjadi kata kunci dari potongan kejadian yang baru Sooyoung susun. Ya, setting kencan pertama mereka memang seperti ini. Sama persis, termasuk dengan ucapan yang Kyuhyun katakan. Namun untuk apa Kyuhyun melakukan ini? Apakah dia tengah merencanakan sesuatu? Pasti, hanya saja Sooyoung tak tahu. Pikirannya pun tak cukup sampai untuk menebak jalan pikiran Kyuhyun.

“Sebenarnya apa yang kau rencanakan, Kyu?” Kyuhyun menoleh menghadap Sooyoung. Bibirnya ia tarik sedikit. “Kita berdua menikah karena cinta. Kencan kita, kurasa sangat romantic. Kehidupan ini kita mulai dengan manis, maka aku ingin memberikan kesan manis pula di akhirnya” Sooyoung terdiam, menunduk, ia mulai mengerti. Sangat mengerti bahkan. “Kenapa kau seperti ini? Dengan begini, justru kau membuatku terlena lagi dengan kemanisan, keromantisan ketika kita berpacaran. Apa kau tak pernah sedikitpun merasa kasihan padaku Kyu?” Sorot mata Sooyoung mulai nanar.

Kyuhyun memilih diam. Disaat seperti ini, ia harus memilah begitu banyak kata agar tak menyakiti perasaan Sooyoung. Meski ia tahu, perlakuannya telah lebih menyakiti perasaan wanita itu ketimbang dengan semua ucapannya.

“Maafkan aku, tapi, menurutku lebih baik jika kita menyudahi ini semua. Aku sudah tidak kuat, kau pun juga sama” Kyuhyun berusaha mengatakannya sedatar mungkin meskipun dadanya bergejolak. Rasa sayangnya masih tertinggal beberapa persen untuk Sooyoung, itu membuatnya kesulitan menentukan hati. “Aku bertahan pun juga tak akan menghasilkan apapun. Terserah kau saja, semoga kau mendapatkan apa yang kau mau dari Victoria” Sooyoung berdiri dari duduknya, ia sempat menyeka airmata nya sebelum beranjak pergi.

Kyuhyun menggenggam lengan sebelah kirinya. Sooyoung diam, menunggu lanjutan kalimat yang akan diucapkan Kyuhyun. “Mari selesaikan kencan terakhir kita dengan baik, sama dengan kencan kita yang pertama. Tunggulah sebentar, setidaknya hingga kembang api selesai diletuskan” Airmata Sooyoung kembali jatuh. Dadanya sesak ditambah dengan hatinya yang mencelos ketika mendengar ucapan Kyuhyun. Rasanya Sooyoung ingin meneriakinya, jika dengan tangisan tak mempan, maka ia akan melakukannya dengan mencurahkan segala isi hatinya pada Kyuhyun. Jika perlu, ia akan memeluknya erat dan tak pernah melepaskannya. Agar semua orang tahu, Kyuhyun itu miliknya, suami sah nya. Agar semua ini tak terjadi, perpisahan ini hanya mimpi buruk semata.

Terlihat begitu banyak letusan kembang api dipermukaan langit. Mereka berdua mendongak keatas, melihat banyaknya variasi kembang api. Hingga letusan yang terakhir, yang menandakan perpisahan mereka. Semuanya telah berakhir.

Sooyoung kembali menangis, sekuat tenaga ia menahan isakannya. Hatinya terasa sedingin es, tubuhnya hampir roboh. Seperti tak ada energy, karena nyatanya topangan hidupnya telah meninggalkannya.

Hari ini Sooyoung telah memakan dua ramyeon. Dua ramyeon yang memiliki arti yang jauh berbeda.

Ramyeon pertama yang berisi kebahagiannya bersama Changmin,

Ramyeon kedua yang berisi perpisahannya dengan Kyuhyun.

Tbc.

Ceritanya gaje? Ngga nyambung? Kurang dapet feel?

Biarin aja ah, yang penting tetep RCL ^^

😛

Iklan

46 thoughts on “You Have Someone? – 4

  1. sumph sie kyi kurang ajar.
    mwny apa sie ??
    g puas pa dah nyakitin soo begitu dlmnya

    soo yg sabar y .
    smw akn indah pada wktunya

    changmin ayo terus usaha
    bwt sooyoung suka sma kamu

    pilih changsoo

  2. gak ngerti sama sekali sama jln pikiran kyu oppa
    bner juga yg dikatakan changmin,kyu oppa masih gak nyadar, gak reti
    beda antara nafsu dan cinta, kurasa kebahagiaan soo disisi changmin oppa, moga kyu oppa nyesel lohh nantinya

  3. sumpah nyesek bngt bacanya..
    si kyu jahat bngt, soo eon mendingan sma changpa z dech..
    and buat si kyupil nyesel thor karena udah nyia2’n soo eon..
    nextnya di tunggu..

  4. keren thor, changsoonya romantis banget, aku setuju kyuyoung udahan aja cerai, nyesek sooyoung digituin mulu, mending sama changmin yg jelas jelas sayang sama soo, lanjut ya thor

  5. udah deh soo lebih baik kamu cerai aja ma kyu trus nikah ma changmin yg jelas2 laki2 sejati…mudah2’an soo nikah ma changmin dan mereka punya anak sedangkan kyutoria nggak bisa punya anak krn vic’a yg mandul..

  6. go go go changmin oppa yg kece ayo semangat lagi buat dptin soo, ayolah choi msh ada changmin ko ga ush sedih gitu..
    dan kau evil go away lah kau dgn nene lampirmu itu.. :p
    feelnya dpt apa lagi pas changsoo, next changsoo

  7. :” kyu tega banget sih.. Kasian banget soo, cuma karena napsunya kyu.. Hubungan mereka retak. T-T kecewa ah sama kyu. Thor… Bikin kyu menderita semenderita-menderitanya, nyesel senyesel nyeselnya. Biar tau rasa T-T soo eon jadian sama changmin aja biar bahagia. Ceritanya bagus, feelnya dapet banget. Aku nunggu-nunggu part 4 ini.. Ditunggu part selanjutnya

  8. aku belum baca eps.2 sama 3 nya tapi udh baca akhir-akhirnya
    nyesekin bnget kyunya jahat bnget…..
    episode2 selanjutnya bikin kalau victoria itu gak lebih baik dari sooyoung trus nanti kyuhyun nyesel bnget…. nanti minta balikan lagi sama sooyoung tapi sooyoungnya gak mau karena udh sama changmin……
    mian kalau komennya gak jelas…..

  9. Udahhhhh cerai aja, biar syoo sma changmin aja yg membawa kebahagian dr pd sma kyu yg bikin syoo tersiksa! Endingnya changsok aja lah… paleng sama kyu disini-.- nafsu aja terus-.-

  10. Yaudahlahya sma changmin aja gk usah peduli lgi sma kyuhyun.
    Brengsek bgt , victoria tuh lgi satu
    Semangat ya pdkt nya changsoo wkwkwk
    Jgn lama2 ya thor

  11. chinggguuu, jebal buat lanjutan ffnya soo eon nya jangan dibuat nangis lagi ne? aku maunya sooyoung eonnie bahagia! udah itu aja, punya pasangan yang bisa mengerti dia 😀
    ffnya bener-bener daebak! jjang! bagus banget! lanjutin ne? jangan lama-lama 😀
    ini ff yang dr dulu aku tunggu loh, tapi di KSI ngga pernah ada lagi, dan betapa senangnya aku setelah menemuka ini dilibrary mu chinguuu!! aaaaa, pokoknya daebak deh! cepet selesaikan ya chingu, aku bener-bener love it! gomawo ffnya ^^

  12. aakhh.. kyu oppa nyebelin banget, namun kyk gini biarin deh soo eon sma chang oppa biar soo eon bhgia.. buat kyu oppa nyesel nanti ya? haha.. next nya buat soo eon ga peduli sma kyu oppa lagi n buat soo eon dingin sma kyu oppa.. next2.

  13. chingu, next partnya mana? aku udah nunggu lama banget sama ff ini. jangan lama-lama ne?
    endingnya buat kyuhyun nyesel pokoknya! dan harus tersiksa karna udah sia-sia in soo. pokoknya endingnya sama kaya komen2 chingu lain diatas lah. itu idenya keren2, hehe
    feelnya kerasa juga ya chingu sama kaya ini, ekekekek. gomawoyo ^^

  14. Ya udah soo tinggalin aja kyu…hidup bersama lah dhn changmin…dan buktikan kpd kyu…klo soo bs dicintai oleh yg lain…malh lbh bsr dr rasa cintnya yg dl…part 5 lanjut

  15. Lanjutin dong eunni…:( please jangan lama2:'(

    Aku udah gak bisa ngomong apa lagi yang jelas author nya udah berhasil bikin aku nangis:'( 4 jempol deh untuk author…pokoknya endingnya hari ChangSoo..#maksa

  16. Ping-balik: You Have Someone? -5- | Choi Sooyoung's Fan

  17. Ping-balik: You Have Someone – 6 | Choi Sooyoung's Fan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s